Jumat, 23 Mei 2014

Memori Yang Tak Pernah Hilang...




“ Kenapa malam ini tak ada bintang? Oh iya aku lupa. Sekarangkan musim hujan. Pasti besok hujan lagi” seruku seakan baru menyadari semuanya. Tapi ada yang aneh. Apayah?
“Abby, kemari ayo kita kekantin!” panggil Vanya dibawah tangga. Kulihat raut wajahnya menahan senyum. Ada apa? Apa yang direncanakannya?
“ Tapi aku nggak ingin sesuatu. Aku temani kamu ajayah” aku berjalan turun kearah Vanya yang sejak tadi sepertinya terus saja menahan senyum. Apa yang sedang dipikirkannya? Kulirik wajah Vanya tapi dia balik menatapku sambil mengedipkan mata kanannya. Ya ampun!
“ Mana Alika? Bukannya tadi kamu bersama Alika?” tanyaku.
“ Ia sedang sibuk. Zidan datang dan ingin bertemu Alika. Sekarang mereka digerbang” kata Vanya. Spontan aku berbalik lurus kearah gerbang. Disana kulihat bayang Alika. Pasti ia sedang berbicara dengan Zidan, sepupunya itu. Dan sekarang aku tahu kenapa sejak tadi Vanya senyum-senyum sendiri. Karena Zidan datang.
Aku berhenti lima meter dari gerbang sedang Vanya menarik-narikku masuk kekantin yang berada dua meter didepanku. Tapi aku tidak mau dan menyuruhnya pergi. “ Ini urusanmu. Jangan masuk-masukkan aku” sergahku. Vanya cemberut kemudian meninggalkanku sendiri.
Lalu pikiranku kembali kearah Zidan dan Alika. Mereka, ketemu didepan gerbang dan Vanya suka itu. Karena Vanya menyukai Zidan. Aku tersenyum. Aku yakin Zidan juga menyukai Vanya. Bagaimana mungkin Zidan tak menyukai Vanya, diakan cantik. Walau Vanya sering bilang kalau Zidan itu kurang syahwat. Ada-ada saja. Tapi Zidan termasuk orang beruntung disukai oleh Vanya. Zidan, aku tak tahu dari segi apa Vanya menyukainya. Mungkin karena ia termasuk anak yang alim.
Tapi aku, huh. Jalan cintaku begitu rumit. Aku suka sama Ata. Sudah lama dan aku tak tahu apa dia tahu atau tidak. Tapi menurutku dia sudah tahu. Aku memang tak pernah bilang padanya atau pada teman-temannya. Tapi teman-temanku suka jail dan sering menitipkan salamku pada Ata yang jelas-jelas aku tidak pernah dan tidak mau titip salam pada Ata. Tapi biarlah. Masih banya juga temanku yang bernasib sama sepertiku. Tapi aku tak tahu yang mana lebih beruntung. Aku atau mereka. Aku yang tak pernah memberitahu perasaanku secara langsung dan sepertinya orang yang kumaksud juga tidak bertindak apa-apa atau mereka yang pernah memberi tahu perasaan mereka tapi tidak digubris.
“ Apa yang dilakukan Eva sama Jane disana?” keningku berkerut melihat mereka berdua sedang berjalan keluar gerbang. Bukannya mereka tahu kalau diluar ada Zidan dan kami tak boleh bertemu dengan Zidan dan teman-temannya. Kecuali Alika yang mempunyai hubungan keluarga dengan Zidan.
“ Jane, kita tak jadi pergi. Zidan ada diluar” panggil Eva.
Aku tahu. Mereka berdua tidak tahu kalu Zidan ada disana. Mungkin karena terkejut mereka kembali masuk kesini dengan tawa. Teman-temanku memang aneh.
“ Yaa Eva habis ketemu sama Zidan yah? Senangyah?”
Apalagi ini? Baru saja Lizzi mengatakan hal yang, salah. Aku tahu itu hanya bercanda. Dan kami tahu semua itu. Maksudku, teman-temanku. Tapi aku tak tahu kenapa Vanya sepertinya tidak menyukai hal tersebut. Dan ia bergegas pergi.
“ Hei, apa yang kau bicarakan?” sergah Eva.
“ Mengaku saja, kau sengajakan keluar gerbang agar bisa melihat Zidan. Kau ini. Kau tak ingat pada Vanya?” cibir Lizzi.
“ Aku hendak kerumah ibu Rachel. Aku tidak bermaksud untuk.. hei apa maksudmu?” tanya Eva sekali lagi.
“ Aku tahu kau mulai menyukai Zidan kan?” goda Lizzi sambil bercanda.
Inilah salahnya karena kami terlalu akrab. Sampai-sampai kami membuat malam kejujuran dan jujur tentang isi hati kami. Alika mengatakan kalau Zidan sempat suka sama Eva. Itu wajar karena Eva tak kalah cantik dari Vanya. Tapi Eva punya orang lain yang disukanya. Begitu pula aku dan Lizzi. Dan kami semua kelas IX. Dan kukira ini semua hanya bercanda.
“ Okey, jadi apa maksudmu dengan kamu juga menyukai Sevant? Kau suka dia? Kau suka orang yang kusukai? Ambil sana. Ambil semaumu” kata Eva tersenyum sambil maju kearah Lizzi.
“ Hey, ngaku saja kalau kau suka sama Zidan” kata Lizzi.
Dan aku benar-benar merasa semua ini bercanda.
“ Lizzi, kau suka sama Ata jugakan? Kau boleh ambil” sambungku.
“ Kau suka Sevant, Ata, siapa lagi ayo katakan. Hah dasar playgirls. Ambil sana semua. Ambil semua gebetan temanmu” sembur Eva.
“ Iya ambil. Ata untukmu. Ambil saja. Jangan pedulikan aku” kataku tertawa. Apa ini kelewatan? Tapi kulihat Eva juga tertawa jadi kupikir semua ini benar-benar hanya candaan. Tapi...
“ Aku tidak seperti itu!” desis Lizzi marah kemudian pergi meninggalkan aku dan Eva.
Aku dan Eva saling pandang.
“ Apa dia marah?” tanya Eva dan aku Cuma bisa mengangkat kedua bahuku. Aku juga tidak tahu. “ Biarlah. Nanti juga baikan. Kan dia yang mulai. Yuk masuk. Rasanya aku ngantuk” ajak Eva merangkulku pulang keasrama.
---
Aku duduk sendirian menghafal ditengah lapangan. Tentu untuk ujian besok. Tapi konsentrasiku langsung buyar saat Eva datang menghampiriku. Sherly dan juga Gissa. Kulihat sekelilingku dan tanpa sengaja aku melihat Lizzi berjalan sendiri sambil memegang sebuah buku. Tentu saja dia sedang belajar.
“ Sepertinya Lizzi marahdeh Va” kataku mengingat sejak pagi tadi Lizzi kurang bersemangat mengerjakan soal ulangan.
“ Tapikan dia yang mulai” balas Eva.
“ Ada apasih? Aku juga ngeliat Lizzi sepertinya menghindar terus” tanya Gissa. Aku melirik Eva dan yang lainnya. Kemudian menceritakan semuanya. Dengan sangat detail karena aku tidak ingin dikatakan pembohong.
“Oh, hanya gara-gara cowok” ucap Sherly.
“ Yap. Enggak masuk akal banget” tambahku.
“ Woii, PEREBUT COWOK ORANG!”
Aku terkesiap mendengar teriakan itu spontan aku langsung memukul pelan Sherly yang hanya tertawa. Tapi Sherky tak  mengacuhkan dan terlihat biasa-biasa saja. Kedua ekor mataku masih bisa mengakap raut wajah Lizzi yang berjalan dengan marah dibelakang kami. Inilah kesalahan persahabatan kami. Kami terlalu suka bercanda dan berpikir kalau itu tak akan apa-apa. Tapi kuharap kali ini seperti itu lagi. Sebentar Lizzi akan baik lagi dan akan tertawa bersama lagi.
“Kenapatuh Lizzi kok nggak ngumpul?” tanya Vanya dan Ivone yang baru saja ikut bergabung. “ Tumben” sambung Ivone. Kemudian Eva menceritakan kembali kejadian kemarin malam. Kemudian semua melupakannya dan kembali tertawa.
Kecuali aku. Aku sesekali menoleh ketempat yang diduduki Lizzi. Sekarang ia tak sendiri. Disana ada Nala dan Reka. Duduk bersamanya. Kurasa Lizzi curhat habis-habisan sama mereka sampai-sampai Lizzi menangis.
Lizzi Menangis!
“ Eva, kurasa kita benar-benar  harus minta maaf deh” kataku sambil melirik Lizzi. Kudengar desah nafas Eva dan mulai berdiri. Aku ikut berdiri kemudian berjalan beriringan dengan Eva menuju Lizzi.
“ Kamu beneran marahyah?” tanya Eva tapi Lizzi langsung berdiri meninggalkan aku dan Eva diikuti Nala dan Reka.
“ Kami Cuma mau minta maaf” teriakku tapi tidak dipedulikan mereka.
“ Sudahlah. Toh kita sudah berusaha meminta maaf tapi dia nggak mau nerima. Orang dia yang mulai juga” kata Eva kemudian kembali ketengah lapangan. Sayup-sayup terdengar ocehan Eva dan Sherly menanggapi sikap Lizzi. Dan dikoor oleh yang lainnya. Aku Cuma diam. Mencoba meresapi semuanya. Siapa yang salah sebenarnya?
“ Woii kalian semua masuklah dalam kelas. Kita harus menyelesaikan masalah ini” teriak Nala dari dalam kelas. Aku bangun pertama  kali dan mengajak yang lainnya kedalam kelas. Tapi sepertinya sebagian tidak mau masuk karena merasa tidak punya masalah. Setelah beberapa lama akhirnya mereka masuk walau aku dan Eva yang pertama melangkah.
“ Alika, kekelas sekarang” teriak seorang temanku dibelakang.
“ Sebentar. Aku ada urusan penting” jawabnya kemudian pergi menjauh.
Mataku melirik Lizzi yang menangis duduk dikursinya sementara kepalanya menghadap kebawah. Dia benar-benar menangisyah?
“ Aku dan Abby minta maaf” kata Eva.
“ Yah. Kami minta maaf. Ayolah Lizzi, kau jangan beginidong” pintaku sambil berusaha menggapai tangan Lizzi tapi Lizzi malah menjauh.
Oke. Aku menyudut dan terserah kamu. Bukan aku yang salah kenapa kamu mesti marah sama aku. Terserah kamu mau terima permintaan maafku atau tidak yang jelas aku sudah meminta maaf.
“ Mana Alika?” tanya Nala sok berkuasa.
“ Ada keperluan” seseorang menyahut.
Hei aku tahu kau yang paling dekat dengan Lizzi tapi kau tak boleh melupakan kami disini Nala. Jangan sok baik deh. Ini kebetulan aja Lizzi yang dapat masalah jadi kau maju. Kalau yang lain kau juga nggak bakalan maju.
“ Alikaaa, kenapa kalau cowok bawaannya harus cepat selesai. Tapi masalah teman, Lizzi kau pergi urus yang lain!” teriak Nala diambang pintu yang langsung dihadang oleh Alika.
“ Kenapa?” tanya Alika suntuk mendengar teriakan Nala.
“ Kenapa terlambat? Kalau cowok cepat. Kalau teman lambat. Makan itu cowok!” desis Nala marah.
Alika menoleh menatap tajam Nala. Ia menahan gemerutuk giginya dan saat itu aku tahu kalau Nala seharusnya tidak mengatakan hal itu.
“ Apa? Kau kenapa marah? Ada urusanku. Aku pergi saja. Memangnya kau siapa?” kata Alika kesal sembari pergi meninggalkan kelas.
Nala berdesis marah.
Lizzi mendengar itu semua langsung keluar kelas dengan tangis yang tertahan. Diikuti oleh Nala dan Reka. Aku masih sempat mendengar salah seorang dari mereka mengatakan kalau yang mereka permasalahkan adalah kalimay ‘ PEREBUT COWOK ORANG ‘ dan aku langsung menatap Sherly. Dia Cuma cengengesan.
Malamnya hanya ada lima orang diasrama. Kubu Lizzi berada dilantai sedang kubu aku dan Eva yang langsung berganti menjadi kubu Alika diatas dipan. Salah satunya Gissa ada disana. Tapi begitu mendengar Reka menyanyi yang ternyata anggota kubu Lizzi bertambah satu lagi yaitu Poppy dan ternyata juga algu itu untuk menyindir dirinya yang bodoh memihak pada Alika, kemarahan Gissa memuncak. Mereka saling membalas dengan lagu masing-masing.
---
Pagi ini kami ujian lagi. Sama seperti hari-hari kemarin. Tapi rasanya beda banget. Kami terbagi dua. Kubu Alika dikelas dan kubu Lizzi diasrama. Aku yang gregetan berjalan keluar kelas dan mendapatkan Sherly, Gissa, Eva, Alika, Vanya, dan Ivone sedang bergosip ria disana. Entah siapa yang memulai tapi saat aku sampai disana sudah ada julukan untuk kubu Lizzi. Dan semuanya nama ikan.
Aku kembali masuk kekelas. Diikuti oleh yang lainnya. Lalu tak lama setelah itu kubu Lizzi (Lizzi, Nala, Reka, Poppy ) masuk kekelas. Aku hanya memerhatikan disudut kelas saat pertengkaran itu mulai. Kuperhatikan semuanya. Hanya Ivone yang duduk seperti aku dan juga seruis memerhatikan pertengkaran itu. Dan kelas lain yang ada dikelas itu hanya diam. Mungkin kaget karena ini adalah pertengkaran yang sangat hebat yang baru terjadi diantara teman-temanku yang terkenal sangat tinggi rasa solidaritasnya.
Aku memikirkan semuanya.
14 april 2009.
Aku tak ingin semuanya berakhir begitu saja. Persahabatan yang sudah dua tahun terjalin aku nggak ingin hanya sia-sia. Aku ingin akhir yang bahagia. Aku tidak percaya kalau persahabatan ini hancur gara-gara laki-laki. Ini sungguh memalukan. Aku sayang mereka. Aku tidak dipihak siapa-siapa. Aku tahu ini Cuma salah paham. Aku hanya lebih dekat dengan Alika dan yang lainnya. Jadi kumohon, hentikan perkelahian ini. Aku sayang kalian. Aku enggak mau ini sia-sia.
Aku menangis disudut ruangan.
Beberapa menit kemudian kupikir ini sudah selesai karena mereka sudah tidak berdebat lagi. Aku berjalan keluar kelas dan duduk dikursi yang kebetulan berada disana. Alika berada didepan perpustakaan sedang menghafal untuk ujian.
Tiba-tiba kulihat Nala keluar sambil membawa sebuah baju berwarna putih merah. Aku kenal baju itu. Baju lambang persatuan kami. TIDAK!
Aku baru saja bilang sayang. Aku ingin kita kembali. Tapi bagaimana caranya kalua dia, Nala sudah membasahinya dan menginjaknya ditanah. Aku kira aku sudah tidak nangis lagi. Rinrik hujan perlahan turun seiring tangisku jatuh. Aku tidak tahan. Aku berlari kearah nala dan kuliaht nala memeras baju itu lalu kembali kedepan asrama. Dai memang mau memancing kemarahanku tapi aku tidak segan-segan bertindak kalau soal yang satu itu.
“ Hai, apa kau sadar apa yang kau injak itu? Mau marah silahkan tapi jangan sama baju itu. Kau mau menghamburkan uang bukan disini tempatnya. Aku tahu kau kaya tapi bukan seperti ini. Apa kau tidak mau berhenti? Dua tahun. Hanya masalah sepele. Sadarlah. Aku memang diam dari tadi tapi bukan berarti aku tidak bisa melawan. Kau kira kau siapa? Sok sekali!”
“ Huh dasar!” desis Nala.
Selanjutnya, aku memang marah dan karena itu membuatku tidak bisa mencerna seluruh yang dikatakan oleh Nala. Yang jelas perkataannya membuat Alika marah dan berlari keluar gerbang. Keluar batas. Aku terkejut dan mengejar Alika. Ujian sudah mau dimulai dan dia berlari keluar. Mungkin hendak pulang. Dan aku yakin kalau Nala baru saja menyinggung tentang ayah Alika.
---

#bersambung...


Mungkinkah  persahabatan ini akan berakhir begitu saja? Oh tidak! Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau  semua yang sudah kulakukan dan teman-teman yang kusayangi ini sia-sia belaka. Tapi apa boleh buat. Aku tidak akan tinggal diam untuk orang yang menghina kelompokku. Termasuk jika ada anggota yang melecehkannya.
Setelah adegan Alika lari keluar gerbang, saat itu bu Rachel melihat pertengakaran kami. Aku kira ia akan marah, tapi saat ada siswi yang melapor tentang hal ini bu Rachel malah bilang ‘ Biarkan saja mereka. Itu mau mereka’.
Tak lama kemudian entah bagaimana caranya kubu Lizzi sudah berada didalam asramaku. Berani memang masuk kandang singa. Yah walaupun kutahu kalau ia juga mempunyai dua anggota yang tinggal diasramaku. Tapi tetap saja kami menang telak.
“ Mentang-mentang kau anak mudir mau seenaknya saja!”
“ Hei, kau kira kau siapa?”
“ Kau mengandalkan ayahmukan? Karena itu kau disukai banyak guru disini dan punya pendukung yang banyak”
“ Bagaimana dengan ibumu itu? Apa kau tahu yang terjadi sebenarnya?”
Dan ...................................................................................
Pertengkaran adu mulutpun terjadi. Aku yang semula tak memihak siapa-siapa kini beralih pada Alika. Aku yakin, Alika tidak salah. Mereka yang terlalu emosional. Tapi berkat pertengkaran itu aku jadi tahu satu rahasia. Rahasia yang selama ini kupendam ternyata bukan hanya aku saja yang merasakannya. Banyak yang merasakan kejanggalan itu. Salah satu dari anggota Lizzi, ada yang bermasalah dengan seluruh orang yang ada dipesantren ini. Dan itu tak bisa ditawar.
Aku mungkin terlalu emosi sampai walau aku sekuat tenaga menahan kata-kata itu keluar, tetap saja keluar. Kalimat yang sudah lama ingin kukeluarkan tapi karena takut dibenci aku tak pernah mengatakannya. Tapi, ternyata mereka menahan kata itu juga dileher mereka. Jadi sekarang aku benar-benar marah sama pembuat onar yang sok tahu.
Malamnya, Alika pulang kerumah sementaranya dan tidak mau kembali lagi diasrama. Entah ini kebetulan atau bagaimana, kedua orang tuanya juga ada disana dan mereka mulai bertanya, “ ada apa sayang? Kenapa kamu enggak mau keasrama?”. Dan kami sekelas dikumpulkan dimusholah.
Aku diam. Aku masih marah. Tapi aku harus tersnyum sambil mengeluarkan sedikit tawaku. Yang itu hanya tipuan agar pimpinan itu mengira aku benar-benar minta maaf dan memaafkannya. Tapi rasanya mereka juga kurang suka kalau maaf-maafan ini betul-betul berhasil. Tuh kaan, mereka memang yang salah!!
---
Aah, kukira permasalahan ini sudah benar-benar berakhir. Rupanya belumyah.
Alika belum terima. Itu bisa dilihat dari tingkah lakunya. Dan itu membuat kami dikumpulkan kembali dimusholah. Tapi bedanya sekarang, kalau aku tidak salah lihat, jam sudah menunjukkan pukul antara sepuluh sampai sebelas malam. Ya ampun, kuharap ini akan cepat selesai.
Kami semua duduk. Aku diam dan memerhatikan kedua pembina itu masuk. Siapa lagi kalau bukan kak Muammar dan kak Syarif. Dan aku pikir ini akan lama soalnya aku bisa merasakan Alika yang belum terima. Dia pasti protes terus dengan kedua pembina itu. Pasti, dan ia akan membantahnya satu dari pembina itu. Muammar Qadafi Mustari.
“ Aku hanya ingin kita kembali seperti semula. Seperti lagunya kak Mamat yang udah kita ubah”
“ Maksudmu??”
“ Apa kau tak ingat?”
Dan akhirnya kami dipulangkan saat jam hampir menunjukkan pukul dua pagi. Sadis juga kedua pembina ini. Huh.. tapi biarlah. Akhirnya kami bersama lagi. Yah... walaupun masih canggung karena pertengkaran itu.
Aku jadi mengerti. Ternyata kami tidak boleh bertengkar. Karena kalau kami bertengkar, sekolah ini akan gempar. Yang seperti hal yang baru saja terjadi. Untuk aku tak banyak bergaul dengan teman-teman Zidan dan semacamnya. Temanku jadi korban. Ia ditanyai tersu tentang pertengkaran itu. Pertengkaran yang aku yakin tak akan pernah terjadi lagi...
---
THE END...