Dulu, aku takut akan hujan
Takut mengingat semua tentang kita
Tentang apa yang selalu kita lakukan setiap hari
Kebersamaan kita, canda dan tawamu yang selalu menghiasi mimpiku
Juga wajah kecewamu padaku ...
Baru menyadari perasaanmu padaku
Juga baru menyadari perasaanku padamu
Itulah hal yang membuatku merasa bodoh dan merasa bersalah
Karena aku baru menyadarinya disaat terakhir kita bertemu
Disaat sisa waktu kebersamaan kita akan berakhir ...
Jumat, 31 Oktober 2014
Jumat, 23 Mei 2014
Memori Yang Tak Pernah Hilang...
“
Kenapa malam ini tak ada bintang? Oh iya aku lupa. Sekarangkan musim hujan.
Pasti besok hujan lagi” seruku seakan baru menyadari semuanya. Tapi ada yang
aneh. Apayah?
“Abby,
kemari ayo kita kekantin!” panggil Vanya dibawah tangga. Kulihat raut wajahnya
menahan senyum. Ada apa? Apa yang direncanakannya?
“
Tapi aku nggak ingin sesuatu. Aku temani kamu ajayah” aku berjalan turun kearah
Vanya yang sejak tadi sepertinya terus saja menahan senyum. Apa yang sedang
dipikirkannya? Kulirik wajah Vanya tapi dia balik menatapku sambil mengedipkan
mata kanannya. Ya ampun!
“
Mana Alika? Bukannya tadi kamu bersama Alika?” tanyaku.
“
Ia sedang sibuk. Zidan datang dan ingin bertemu Alika. Sekarang mereka
digerbang” kata Vanya. Spontan aku berbalik lurus kearah gerbang. Disana
kulihat bayang Alika. Pasti ia sedang berbicara dengan Zidan, sepupunya itu.
Dan sekarang aku tahu kenapa sejak tadi Vanya senyum-senyum sendiri. Karena
Zidan datang.
Aku
berhenti lima meter dari gerbang sedang Vanya menarik-narikku masuk kekantin
yang berada dua meter didepanku. Tapi aku tidak mau dan menyuruhnya pergi. “
Ini urusanmu. Jangan masuk-masukkan aku” sergahku. Vanya cemberut kemudian
meninggalkanku sendiri.
Lalu
pikiranku kembali kearah Zidan dan Alika. Mereka, ketemu didepan gerbang dan
Vanya suka itu. Karena Vanya menyukai Zidan. Aku tersenyum. Aku yakin Zidan
juga menyukai Vanya. Bagaimana mungkin Zidan tak menyukai Vanya, diakan cantik.
Walau Vanya sering bilang kalau Zidan itu kurang syahwat. Ada-ada saja. Tapi
Zidan termasuk orang beruntung disukai oleh Vanya. Zidan, aku tak tahu dari
segi apa Vanya menyukainya. Mungkin karena ia termasuk anak yang alim.
Tapi
aku, huh. Jalan cintaku begitu rumit. Aku suka sama Ata. Sudah lama dan aku tak
tahu apa dia tahu atau tidak. Tapi menurutku dia sudah tahu. Aku memang tak
pernah bilang padanya atau pada teman-temannya. Tapi teman-temanku suka jail
dan sering menitipkan salamku pada Ata yang jelas-jelas aku tidak pernah dan
tidak mau titip salam pada Ata. Tapi biarlah. Masih banya juga temanku yang
bernasib sama sepertiku. Tapi aku tak tahu yang mana lebih beruntung. Aku atau
mereka. Aku yang tak pernah memberitahu perasaanku secara langsung dan
sepertinya orang yang kumaksud juga tidak bertindak apa-apa atau mereka yang
pernah memberi tahu perasaan mereka tapi tidak digubris.
“
Apa yang dilakukan Eva sama Jane disana?” keningku berkerut melihat mereka
berdua sedang berjalan keluar gerbang. Bukannya mereka tahu kalau diluar ada
Zidan dan kami tak boleh bertemu dengan Zidan dan teman-temannya. Kecuali Alika
yang mempunyai hubungan keluarga dengan Zidan.
“
Jane, kita tak jadi pergi. Zidan ada diluar” panggil Eva.
Aku
tahu. Mereka berdua tidak tahu kalu Zidan ada disana. Mungkin karena terkejut
mereka kembali masuk kesini dengan tawa. Teman-temanku memang aneh.
“
Yaa Eva habis ketemu sama Zidan yah? Senangyah?”
Apalagi
ini? Baru saja Lizzi mengatakan hal yang, salah. Aku tahu itu hanya bercanda.
Dan kami tahu semua itu. Maksudku, teman-temanku. Tapi aku tak tahu kenapa
Vanya sepertinya tidak menyukai hal tersebut. Dan ia bergegas pergi.
“
Hei, apa yang kau bicarakan?” sergah Eva.
“
Mengaku saja, kau sengajakan keluar gerbang agar bisa melihat Zidan. Kau ini.
Kau tak ingat pada Vanya?” cibir Lizzi.
“
Aku hendak kerumah ibu Rachel. Aku tidak bermaksud untuk.. hei apa maksudmu?”
tanya Eva sekali lagi.
“
Aku tahu kau mulai menyukai Zidan kan?” goda Lizzi sambil bercanda.
Inilah
salahnya karena kami terlalu akrab. Sampai-sampai kami membuat malam kejujuran
dan jujur tentang isi hati kami. Alika mengatakan kalau Zidan sempat suka sama
Eva. Itu wajar karena Eva tak kalah cantik dari Vanya. Tapi Eva punya orang
lain yang disukanya. Begitu pula aku dan Lizzi. Dan kami semua kelas IX. Dan
kukira ini semua hanya bercanda.
“
Okey, jadi apa maksudmu dengan kamu juga menyukai Sevant? Kau suka dia? Kau
suka orang yang kusukai? Ambil sana. Ambil semaumu” kata Eva tersenyum sambil
maju kearah Lizzi.
“
Hey, ngaku saja kalau kau suka sama Zidan” kata Lizzi.
Dan
aku benar-benar merasa semua ini bercanda.
“
Lizzi, kau suka sama Ata jugakan? Kau boleh ambil” sambungku.
“
Kau suka Sevant, Ata, siapa lagi ayo katakan. Hah dasar playgirls. Ambil sana
semua. Ambil semua gebetan temanmu” sembur Eva.
“
Iya ambil. Ata untukmu. Ambil saja. Jangan pedulikan aku” kataku tertawa. Apa
ini kelewatan? Tapi kulihat Eva juga tertawa jadi kupikir semua ini benar-benar
hanya candaan. Tapi...
“
Aku tidak seperti itu!” desis Lizzi marah kemudian pergi meninggalkan aku dan
Eva.
Aku
dan Eva saling pandang.
“
Apa dia marah?” tanya Eva dan aku Cuma bisa mengangkat kedua bahuku. Aku juga
tidak tahu. “ Biarlah. Nanti juga baikan. Kan dia yang mulai. Yuk masuk.
Rasanya aku ngantuk” ajak Eva merangkulku pulang keasrama.
---
Aku
duduk sendirian menghafal ditengah lapangan. Tentu untuk ujian besok. Tapi
konsentrasiku langsung buyar saat Eva datang menghampiriku. Sherly dan juga
Gissa. Kulihat sekelilingku dan tanpa sengaja aku melihat Lizzi berjalan
sendiri sambil memegang sebuah buku. Tentu saja dia sedang belajar.
“
Sepertinya Lizzi marahdeh Va” kataku mengingat sejak pagi tadi Lizzi kurang
bersemangat mengerjakan soal ulangan.
“
Tapikan dia yang mulai” balas Eva.
“
Ada apasih? Aku juga ngeliat Lizzi sepertinya menghindar terus” tanya Gissa.
Aku melirik Eva dan yang lainnya. Kemudian menceritakan semuanya. Dengan sangat
detail karena aku tidak ingin dikatakan pembohong.
“Oh,
hanya gara-gara cowok” ucap Sherly.
“
Yap. Enggak masuk akal banget” tambahku.
“
Woii, PEREBUT COWOK ORANG!”
Aku
terkesiap mendengar teriakan itu spontan aku langsung memukul pelan Sherly yang
hanya tertawa. Tapi Sherky tak
mengacuhkan dan terlihat biasa-biasa saja. Kedua ekor mataku masih bisa
mengakap raut wajah Lizzi yang berjalan dengan marah dibelakang kami. Inilah
kesalahan persahabatan kami. Kami terlalu suka bercanda dan berpikir kalau itu
tak akan apa-apa. Tapi kuharap kali ini seperti itu lagi. Sebentar Lizzi akan
baik lagi dan akan tertawa bersama lagi.
“Kenapatuh
Lizzi kok nggak ngumpul?” tanya Vanya dan Ivone yang baru saja ikut bergabung. “
Tumben” sambung Ivone. Kemudian Eva menceritakan kembali kejadian kemarin
malam. Kemudian semua melupakannya dan kembali tertawa.
Kecuali
aku. Aku sesekali menoleh ketempat yang diduduki Lizzi. Sekarang ia tak
sendiri. Disana ada Nala dan Reka. Duduk bersamanya. Kurasa Lizzi curhat
habis-habisan sama mereka sampai-sampai Lizzi menangis.
Lizzi
Menangis!
“
Eva, kurasa kita benar-benar harus minta
maaf deh” kataku sambil melirik Lizzi. Kudengar desah nafas Eva dan mulai
berdiri. Aku ikut berdiri kemudian berjalan beriringan dengan Eva menuju Lizzi.
“
Kamu beneran marahyah?” tanya Eva tapi Lizzi langsung berdiri meninggalkan aku
dan Eva diikuti Nala dan Reka.
“
Kami Cuma mau minta maaf” teriakku tapi tidak dipedulikan mereka.
“
Sudahlah. Toh kita sudah berusaha meminta maaf tapi dia nggak mau nerima. Orang
dia yang mulai juga” kata Eva kemudian kembali ketengah lapangan. Sayup-sayup
terdengar ocehan Eva dan Sherly menanggapi sikap Lizzi. Dan dikoor oleh yang
lainnya. Aku Cuma diam. Mencoba meresapi semuanya. Siapa yang salah sebenarnya?
“
Woii kalian semua masuklah dalam kelas. Kita harus menyelesaikan masalah ini”
teriak Nala dari dalam kelas. Aku bangun pertama kali dan mengajak yang lainnya kedalam kelas.
Tapi sepertinya sebagian tidak mau masuk karena merasa tidak punya masalah.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka masuk walau aku dan Eva yang pertama
melangkah.
“
Alika, kekelas sekarang” teriak seorang temanku dibelakang.
“
Sebentar. Aku ada urusan penting” jawabnya kemudian pergi menjauh.
Mataku
melirik Lizzi yang menangis duduk dikursinya sementara kepalanya menghadap
kebawah. Dia benar-benar menangisyah?
“
Aku dan Abby minta maaf” kata Eva.
“
Yah. Kami minta maaf. Ayolah Lizzi, kau jangan beginidong” pintaku sambil
berusaha menggapai tangan Lizzi tapi Lizzi malah menjauh.
Oke.
Aku menyudut dan terserah kamu. Bukan aku yang salah kenapa kamu mesti marah
sama aku. Terserah kamu mau terima permintaan maafku atau tidak yang jelas aku
sudah meminta maaf.
“
Mana Alika?” tanya Nala sok berkuasa.
“
Ada keperluan” seseorang menyahut.
Hei
aku tahu kau yang paling dekat dengan Lizzi tapi kau tak boleh melupakan kami
disini Nala. Jangan sok baik deh. Ini kebetulan aja Lizzi yang dapat masalah
jadi kau maju. Kalau yang lain kau juga nggak bakalan maju.
“
Alikaaa, kenapa kalau cowok bawaannya harus cepat selesai. Tapi masalah teman,
Lizzi kau pergi urus yang lain!” teriak Nala diambang pintu yang langsung
dihadang oleh Alika.
“
Kenapa?” tanya Alika suntuk mendengar teriakan Nala.
“
Kenapa terlambat? Kalau cowok cepat. Kalau teman lambat. Makan itu cowok!”
desis Nala marah.
Alika
menoleh menatap tajam Nala. Ia menahan gemerutuk giginya dan saat itu aku tahu
kalau Nala seharusnya tidak mengatakan hal itu.
“
Apa? Kau kenapa marah? Ada urusanku. Aku pergi saja. Memangnya kau siapa?” kata
Alika kesal sembari pergi meninggalkan kelas.
Nala
berdesis marah.
Lizzi
mendengar itu semua langsung keluar kelas dengan tangis yang tertahan. Diikuti
oleh Nala dan Reka. Aku masih sempat mendengar salah seorang dari mereka
mengatakan kalau yang mereka permasalahkan adalah kalimay ‘ PEREBUT COWOK ORANG
‘ dan aku langsung menatap Sherly. Dia Cuma cengengesan.
Malamnya
hanya ada lima orang diasrama. Kubu Lizzi berada dilantai sedang kubu aku dan
Eva yang langsung berganti menjadi kubu Alika diatas dipan. Salah satunya Gissa
ada disana. Tapi begitu mendengar Reka menyanyi yang ternyata anggota kubu
Lizzi bertambah satu lagi yaitu Poppy dan ternyata juga algu itu untuk
menyindir dirinya yang bodoh memihak pada Alika, kemarahan Gissa memuncak.
Mereka saling membalas dengan lagu masing-masing.
---
Pagi
ini kami ujian lagi. Sama seperti hari-hari kemarin. Tapi rasanya beda banget.
Kami terbagi dua. Kubu Alika dikelas dan kubu Lizzi diasrama. Aku yang gregetan
berjalan keluar kelas dan mendapatkan Sherly, Gissa, Eva, Alika, Vanya, dan
Ivone sedang bergosip ria disana. Entah siapa yang memulai tapi saat aku sampai
disana sudah ada julukan untuk kubu Lizzi. Dan semuanya nama ikan.
Aku
kembali masuk kekelas. Diikuti oleh yang lainnya. Lalu tak lama setelah itu
kubu Lizzi (Lizzi, Nala, Reka, Poppy ) masuk kekelas. Aku hanya memerhatikan
disudut kelas saat pertengkaran itu mulai. Kuperhatikan semuanya. Hanya Ivone
yang duduk seperti aku dan juga seruis memerhatikan pertengkaran itu. Dan kelas
lain yang ada dikelas itu hanya diam. Mungkin kaget karena ini adalah
pertengkaran yang sangat hebat yang baru terjadi diantara teman-temanku yang
terkenal sangat tinggi rasa solidaritasnya.
Aku
memikirkan semuanya.
14
april 2009.
Aku
tak ingin semuanya berakhir begitu saja. Persahabatan yang sudah dua tahun
terjalin aku nggak ingin hanya sia-sia. Aku ingin akhir yang bahagia. Aku tidak
percaya kalau persahabatan ini hancur gara-gara laki-laki. Ini sungguh
memalukan. Aku sayang mereka. Aku tidak dipihak siapa-siapa. Aku tahu ini Cuma
salah paham. Aku hanya lebih dekat dengan Alika dan yang lainnya. Jadi kumohon,
hentikan perkelahian ini. Aku sayang kalian. Aku enggak mau ini sia-sia.
Aku
menangis disudut ruangan.
Beberapa
menit kemudian kupikir ini sudah selesai karena mereka sudah tidak berdebat
lagi. Aku berjalan keluar kelas dan duduk dikursi yang kebetulan berada disana.
Alika berada didepan perpustakaan sedang menghafal untuk ujian.
Tiba-tiba
kulihat Nala keluar sambil membawa sebuah baju berwarna putih merah. Aku kenal
baju itu. Baju lambang persatuan kami. TIDAK!
Aku
baru saja bilang sayang. Aku ingin kita kembali. Tapi bagaimana caranya kalua
dia, Nala sudah membasahinya dan menginjaknya ditanah. Aku kira aku sudah tidak
nangis lagi. Rinrik hujan perlahan turun seiring tangisku jatuh. Aku tidak
tahan. Aku berlari kearah nala dan kuliaht nala memeras baju itu lalu kembali
kedepan asrama. Dai memang mau memancing kemarahanku tapi aku tidak segan-segan
bertindak kalau soal yang satu itu.
“
Hai, apa kau sadar apa yang kau injak itu? Mau marah silahkan tapi jangan sama
baju itu. Kau mau menghamburkan uang bukan disini tempatnya. Aku tahu kau kaya
tapi bukan seperti ini. Apa kau tidak mau berhenti? Dua tahun. Hanya masalah
sepele. Sadarlah. Aku memang diam dari tadi tapi bukan berarti aku tidak bisa
melawan. Kau kira kau siapa? Sok sekali!”
“
Huh dasar!” desis Nala.
Selanjutnya,
aku memang marah dan karena itu membuatku tidak bisa mencerna seluruh yang
dikatakan oleh Nala. Yang jelas perkataannya membuat Alika marah dan berlari
keluar gerbang. Keluar batas. Aku terkejut dan mengejar Alika. Ujian sudah mau
dimulai dan dia berlari keluar. Mungkin hendak pulang. Dan aku yakin kalau Nala
baru saja menyinggung tentang ayah Alika.
---
#bersambung...
Mungkinkah persahabatan ini akan berakhir begitu saja?
Oh tidak! Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau semua yang sudah kulakukan dan teman-teman
yang kusayangi ini sia-sia belaka. Tapi apa boleh buat. Aku tidak akan tinggal
diam untuk orang yang menghina kelompokku. Termasuk jika ada anggota yang
melecehkannya.
Setelah
adegan Alika lari keluar gerbang, saat itu bu Rachel melihat pertengakaran
kami. Aku kira ia akan marah, tapi saat ada siswi yang melapor tentang hal ini
bu Rachel malah bilang ‘ Biarkan saja mereka. Itu mau mereka’.
Tak
lama kemudian entah bagaimana caranya kubu Lizzi sudah berada didalam asramaku.
Berani memang masuk kandang singa. Yah walaupun kutahu kalau ia juga mempunyai
dua anggota yang tinggal diasramaku. Tapi tetap saja kami menang telak.
“
Mentang-mentang kau anak mudir mau seenaknya saja!”
“
Hei, kau kira kau siapa?”
“
Kau mengandalkan ayahmukan? Karena itu kau disukai banyak guru disini dan punya
pendukung yang banyak”
“
Bagaimana dengan ibumu itu? Apa kau tahu yang terjadi sebenarnya?”
Dan
...................................................................................
Pertengkaran
adu mulutpun terjadi. Aku yang semula tak memihak siapa-siapa kini beralih pada
Alika. Aku yakin, Alika tidak salah. Mereka yang terlalu emosional. Tapi berkat
pertengkaran itu aku jadi tahu satu rahasia. Rahasia yang selama ini kupendam
ternyata bukan hanya aku saja yang merasakannya. Banyak yang merasakan
kejanggalan itu. Salah satu dari anggota Lizzi, ada yang bermasalah dengan
seluruh orang yang ada dipesantren ini. Dan itu tak bisa ditawar.
Aku
mungkin terlalu emosi sampai walau aku sekuat tenaga menahan kata-kata itu
keluar, tetap saja keluar. Kalimat yang sudah lama ingin kukeluarkan tapi
karena takut dibenci aku tak pernah mengatakannya. Tapi, ternyata mereka
menahan kata itu juga dileher mereka. Jadi sekarang aku benar-benar marah sama
pembuat onar yang sok tahu.
Malamnya,
Alika pulang kerumah sementaranya dan tidak mau kembali lagi diasrama. Entah
ini kebetulan atau bagaimana, kedua orang tuanya juga ada disana dan mereka
mulai bertanya, “ ada apa sayang? Kenapa kamu enggak mau keasrama?”. Dan kami
sekelas dikumpulkan dimusholah.
Aku
diam. Aku masih marah. Tapi aku harus tersnyum sambil mengeluarkan sedikit
tawaku. Yang itu hanya tipuan agar pimpinan itu mengira aku benar-benar minta
maaf dan memaafkannya. Tapi rasanya mereka juga kurang suka kalau maaf-maafan
ini betul-betul berhasil. Tuh kaan, mereka memang yang salah!!
---
Aah,
kukira permasalahan ini sudah benar-benar berakhir. Rupanya belumyah.
Alika
belum terima. Itu bisa dilihat dari tingkah lakunya. Dan itu membuat kami
dikumpulkan kembali dimusholah. Tapi bedanya sekarang, kalau aku tidak salah
lihat, jam sudah menunjukkan pukul antara sepuluh sampai sebelas malam. Ya
ampun, kuharap ini akan cepat selesai.
Kami
semua duduk. Aku diam dan memerhatikan kedua pembina itu masuk. Siapa lagi
kalau bukan kak Muammar dan kak Syarif. Dan aku pikir ini akan lama soalnya aku
bisa merasakan Alika yang belum terima. Dia pasti protes terus dengan kedua
pembina itu. Pasti, dan ia akan membantahnya satu dari pembina itu. Muammar
Qadafi Mustari.
“
Aku hanya ingin kita kembali seperti semula. Seperti lagunya kak Mamat yang
udah kita ubah”
“
Maksudmu??”
“
Apa kau tak ingat?”
Dan
akhirnya kami dipulangkan saat jam hampir menunjukkan pukul dua pagi. Sadis
juga kedua pembina ini. Huh.. tapi biarlah. Akhirnya kami bersama lagi. Yah...
walaupun masih canggung karena pertengkaran itu.
Aku
jadi mengerti. Ternyata kami tidak boleh bertengkar. Karena kalau kami
bertengkar, sekolah ini akan gempar. Yang seperti hal yang baru saja terjadi.
Untuk aku tak banyak bergaul dengan teman-teman Zidan dan semacamnya. Temanku
jadi korban. Ia ditanyai tersu tentang pertengkaran itu. Pertengkaran yang aku
yakin tak akan pernah terjadi lagi...
---
THE END...
Sabtu, 05 April 2014
Mereka, Tanpa Aku!
Mereka, Tanpa Aku!
Hanya satu yang kuinginkan didunia ini.
Hanya senyum tulus kalian. Tidak lebih.
Hanya sesederhana itu.
Hanya satu yang kuinginkan didunia ini.
Hanya senyum tulus kalian. Tidak lebih.
Hanya sesederhana itu.
“Abby, tentang kejadian semalam kamu,”
PAKKK...
Aku menutup pintu mobil tanpa peduli akan teriakan mama. Sangat menjengkelkan jika aku harus mendengar ocehannya lagi. Atau permintaan maaf yang berulang kali ia ucapkan dan berulang kalipun kembali ia lakukan kesalahannya itu.
Aku memasuki gerbang hijau sekolahku. Menerobos masuk tanpa memperdulikan siapa saja orang yang memanggilku. Tapi suara lirih itu entah mengapa membuat kakiku berhenti melangkah.
“ Afwan Ukhti. Kartu izinnya”
Aku menatap kesal orang yang berdiri takut didepanku. Seandainya aku tidak sadar kalau dia sedang bertugas piket, aku sudah mengomelinya sejak tadi. Dengan cepat aku mengambilkan kartu izinku lalu melemparkannya. Tak peduli dengan keterkejutannya aku melangkah menjauh.
Dan yang paling memuakkan adalah langkah ketika aku harus kembali bersama kawan-kawan seasramaku. Setiap kali bersama mereka, setiap kali aku merasa dilema. Aku marah, benci, sedih, bahagia, dan rindu. Semuanya bercampur aduk membuatku terkadang merasa lelah karena memikirnya.
Aku berjalan dan sengaja mengambil jalan lewat koridor belakang asrama agar mereka tidak melihatku. Kuharap mereka benar-benar tidak melihatku. Tak menampakkan diri lebih baik dari pada harus bertemu dengan mereka.
“ Aku pulang” seruku sambil lalu melewati teman-temanku yang sedang tertawa cekikian.
“ Hai Abby” sapa Quin.
Aku malas. Sangat malas bertemu mereka. Sapaan dan senyumnya, semua itu palsu. Hanya kebohongan.
“ By, oleh-oleh buat kami mana?” tanya Rina.
Apa kubilang. Semua palsu.
Aku memandang kesal kearah Rina tapi dia hanya senyum-senyum tak jelas balas memandangku. Setengah hati aku membuka ranselku dan melemparkan 2 buah chungky bar kearah mereka. Kedua mataku melirik mereka yang entah mengapa sangat senang walau jelas-jelas kedua coklat tadi sengaja aku lempar kelantai. Aku sempat menangkap tatapan aneh Fitri padaku. Tapi sedetik kemudian ia kembali sibuk dengan coklat tadi.
Aku langsung tiduran tengkurap, menutupi wajahku dengan bantal kepala yang ada disampingku. Entah mengapa melihat mereka tertawa membuat hatiku miris. Aku juga ingin tersenyum. Tertawa lepas seperti mereka tapi bagaimana caranya? Aku benci mereka. Sangat benci.
Hanya satu yang aku tahu. Mereka berbuat baik kepadaku hanya jika ada maunya. Mereka hanya mau uangku. Hanya mau kepintaranku. Hanya mau makananku. Selebihnya, tidak sama sekali. Aku mengutuk diriku sendiri dan mulai bertanya-tanya.
Sayup-sayup lonceng makan sore telah berdentang. Aku mendesah tapi tak bergerak dari tempat tidurku. Mereka berlari-lari mencari piring mereka sambil bersorak gembira. Aku ingin mengetahui apakah mereka akan memanggilku makan bersama setelah kuberi coklat atau tidak. Ternyata TIDAK!
“ Kenapa?” ucapku lirih.
Aku memindahkan bantal yang berada diatas wajahku dan mulai duduk sambil memeluk kedua lututku.
“ Aku hanya ingin kasih sayang. Hanya itu. Kenapa kalian tidak mengerti?”
Mataku mulai kabur karena air mata yang mengenang.
Telingaku mulai berdengung karena air mata yang terus terbendung.
Tenggorokanku mulai tercekat karena air mata yang terus kutahan.
Hingga akhirnya, air mata itu jatuh meluruh membuat benteng pertahanan yang selama ini kubangun runtuh sia-sia. Apa yang salah dari keinginanku? Tak ada. Itu hal yang wajar yang diinginkan oleh semua orang. Apakah salah jika aku ingin merasa bahagia?
Apa aku sangat menyedihkan? Bahkan orang tuaku saja tak ada yang peduli padaku.
Aku masih ingat sisa-sisa pertengkaran mama dan papa semalam. Kata-kata cerai hampir menggema keras diseisi rumah. Dan mereka tak peduli akan keberadaanku dirumah.
Aku memandang sekelilingku. Tak ada orang. Dan mungkin juga tak ada yang menginginkanku didunia ini. Apa aku benar-benar harus menghilang?
Aku menangis sesegukan. Sesekali mataku menatap nanar pada dinding tembok tempat tidur Angel. Disana Angel suka menempel foto-foto miliknya. Dari sudut mataku, aku melihat sebuah foto yang dimana ia tertawa lebar. Bersama keluarganya. Sungguh keluarga yang harmonis. Aku iri padanya. Hampir setiap hari Angel bercerita tentang keluarganya. Dua tahun terakhir ini aku sudah lupa bagaimana cara tertawa dan rasa bahagia saat bersama orang tuaku. Mereka terlalu sibuk dengan karir mereka sendiri tanpa pernah memikirkan aku. Yang ia tahu asalkan memberikan uang yang banyak bagiku, hal itu sudah membuatku senang.
Lalu pandanganku beralih pada foto yang berada dipojok. Itu foto kami. Foto sewaktu kami baru masuk SMP tahun ketiga. Aku tersenyum samar. Aku ingin kembali kemasa itu. Dimana teman-temanku masih peduli padaku. Masih memberikan senyum tulus padaku. Masih tertawa hangat bersamaku. Tapi sekarang...
Aku serasa ingin muntah.
Perutku melilit mengingat semuanya. Persahabatan yang mereka umbar-umbarkan pada kelas lain. Kekompakan yang ia bangga-banggakan pada kelas lain. Semua hanya omong kosong. Tidak lebih dari bualan belaka. Andai mereka tahu kalau aku sangat menyayangi mereka. Tapi sekarang percuma. Aku hanya bagai robot yang mereka andalkan. Tidak lebih.
“ Abby, kau kenapa? Kau tak makan?” tanya Riani.
“ Kenapa kau baru bertanya sekarang?” ucapku ketus sambil berlalu meninggalkannya menuju kamar mandi.
“ Kau habis nangis Abby?” tanya Riani lagi.
“ Apa urusanmu? Berhentilah bertanya seolah kau prihatin padaku!” teriakku benar-benar kesal. Dan nampaknya itu berhasil. Aku tak lagi mendengar suara Riani.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi dan mendapati Riani masih berdiri disana. Aku mendengus kesal.
“ Aku minta maaf kalau aku salah. Kau temanku dan aku tak mau terjadi sesuatu padamu” kata Riani pelan.
“ Eh, ada apanih?” tanya Vania.
“ Kenapa kenapa kenapa?” susul Aqilah.
Aku berlalu pergi seolah tak mendengar mereka yang perlahan kembali ribut. Aku mengambil mukena milikku dan berjalan ke masjid.
Langkah pertamaku memasuki masjid membuatku kembali tidak tenang. Aku melirik ketengah-tengah masjid yang memang disengaja tidak dipasangi tegel dan melihat kaum adam dibawah sana. Dan aku baru tahu. Ternyata kaum adam juga suka bergosip ria.
Sudut kanan belakang adalah yang paling kusuka kalau ingin menyendiri. Jadi aku kesana berusaha mencari ketenangan. Saat duduk termenung sendiri, aku kembali melamun. Melamun yang tak jelas.
“ Abbyyy, masjid tempat beribadah loh. Bukan tempat melamun”
Aku menoleh dan mendapati Putri disampingku. Aku mendengus. Sumpah, aku hanya ingin sendiri saja. Bisakah kalian tidak menggangguku?!
Aku menatapnya datar. Lalu menoleh keteman-temanku yang lain disertai dengan tatapan aneh karena mereka juga sedang berbincang-bincang. Putri mengikuti arah pandangan laku nyegir sendiri karena mengetahui dirinya salah.
“ Kenapa kau tak cari tempat lain saja?” tanyaku ketus.
“ Memangnya kenapa kalau aku duduk disini? Inikan tempat umum. Siapapun berhak duduk disini. Dan... kamu temanku. Aku ingin duduk dengan temanku”
Teman. Hal itu lagi. Lagi dan lagi.
“ Tadi ada apa denganmu?’ tanya Putri pelan.
“ Bukan urusanmu!”
PAKKK...
Aku menutup pintu mobil tanpa peduli akan teriakan mama. Sangat menjengkelkan jika aku harus mendengar ocehannya lagi. Atau permintaan maaf yang berulang kali ia ucapkan dan berulang kalipun kembali ia lakukan kesalahannya itu.
Aku memasuki gerbang hijau sekolahku. Menerobos masuk tanpa memperdulikan siapa saja orang yang memanggilku. Tapi suara lirih itu entah mengapa membuat kakiku berhenti melangkah.
“ Afwan Ukhti. Kartu izinnya”
Aku menatap kesal orang yang berdiri takut didepanku. Seandainya aku tidak sadar kalau dia sedang bertugas piket, aku sudah mengomelinya sejak tadi. Dengan cepat aku mengambilkan kartu izinku lalu melemparkannya. Tak peduli dengan keterkejutannya aku melangkah menjauh.
Dan yang paling memuakkan adalah langkah ketika aku harus kembali bersama kawan-kawan seasramaku. Setiap kali bersama mereka, setiap kali aku merasa dilema. Aku marah, benci, sedih, bahagia, dan rindu. Semuanya bercampur aduk membuatku terkadang merasa lelah karena memikirnya.
Aku berjalan dan sengaja mengambil jalan lewat koridor belakang asrama agar mereka tidak melihatku. Kuharap mereka benar-benar tidak melihatku. Tak menampakkan diri lebih baik dari pada harus bertemu dengan mereka.
“ Aku pulang” seruku sambil lalu melewati teman-temanku yang sedang tertawa cekikian.
“ Hai Abby” sapa Quin.
Aku malas. Sangat malas bertemu mereka. Sapaan dan senyumnya, semua itu palsu. Hanya kebohongan.
“ By, oleh-oleh buat kami mana?” tanya Rina.
Apa kubilang. Semua palsu.
Aku memandang kesal kearah Rina tapi dia hanya senyum-senyum tak jelas balas memandangku. Setengah hati aku membuka ranselku dan melemparkan 2 buah chungky bar kearah mereka. Kedua mataku melirik mereka yang entah mengapa sangat senang walau jelas-jelas kedua coklat tadi sengaja aku lempar kelantai. Aku sempat menangkap tatapan aneh Fitri padaku. Tapi sedetik kemudian ia kembali sibuk dengan coklat tadi.
Aku langsung tiduran tengkurap, menutupi wajahku dengan bantal kepala yang ada disampingku. Entah mengapa melihat mereka tertawa membuat hatiku miris. Aku juga ingin tersenyum. Tertawa lepas seperti mereka tapi bagaimana caranya? Aku benci mereka. Sangat benci.
Hanya satu yang aku tahu. Mereka berbuat baik kepadaku hanya jika ada maunya. Mereka hanya mau uangku. Hanya mau kepintaranku. Hanya mau makananku. Selebihnya, tidak sama sekali. Aku mengutuk diriku sendiri dan mulai bertanya-tanya.
Sayup-sayup lonceng makan sore telah berdentang. Aku mendesah tapi tak bergerak dari tempat tidurku. Mereka berlari-lari mencari piring mereka sambil bersorak gembira. Aku ingin mengetahui apakah mereka akan memanggilku makan bersama setelah kuberi coklat atau tidak. Ternyata TIDAK!
“ Kenapa?” ucapku lirih.
Aku memindahkan bantal yang berada diatas wajahku dan mulai duduk sambil memeluk kedua lututku.
“ Aku hanya ingin kasih sayang. Hanya itu. Kenapa kalian tidak mengerti?”
Mataku mulai kabur karena air mata yang mengenang.
Telingaku mulai berdengung karena air mata yang terus terbendung.
Tenggorokanku mulai tercekat karena air mata yang terus kutahan.
Hingga akhirnya, air mata itu jatuh meluruh membuat benteng pertahanan yang selama ini kubangun runtuh sia-sia. Apa yang salah dari keinginanku? Tak ada. Itu hal yang wajar yang diinginkan oleh semua orang. Apakah salah jika aku ingin merasa bahagia?
Apa aku sangat menyedihkan? Bahkan orang tuaku saja tak ada yang peduli padaku.
Aku masih ingat sisa-sisa pertengkaran mama dan papa semalam. Kata-kata cerai hampir menggema keras diseisi rumah. Dan mereka tak peduli akan keberadaanku dirumah.
Aku memandang sekelilingku. Tak ada orang. Dan mungkin juga tak ada yang menginginkanku didunia ini. Apa aku benar-benar harus menghilang?
Aku menangis sesegukan. Sesekali mataku menatap nanar pada dinding tembok tempat tidur Angel. Disana Angel suka menempel foto-foto miliknya. Dari sudut mataku, aku melihat sebuah foto yang dimana ia tertawa lebar. Bersama keluarganya. Sungguh keluarga yang harmonis. Aku iri padanya. Hampir setiap hari Angel bercerita tentang keluarganya. Dua tahun terakhir ini aku sudah lupa bagaimana cara tertawa dan rasa bahagia saat bersama orang tuaku. Mereka terlalu sibuk dengan karir mereka sendiri tanpa pernah memikirkan aku. Yang ia tahu asalkan memberikan uang yang banyak bagiku, hal itu sudah membuatku senang.
Lalu pandanganku beralih pada foto yang berada dipojok. Itu foto kami. Foto sewaktu kami baru masuk SMP tahun ketiga. Aku tersenyum samar. Aku ingin kembali kemasa itu. Dimana teman-temanku masih peduli padaku. Masih memberikan senyum tulus padaku. Masih tertawa hangat bersamaku. Tapi sekarang...
Aku serasa ingin muntah.
Perutku melilit mengingat semuanya. Persahabatan yang mereka umbar-umbarkan pada kelas lain. Kekompakan yang ia bangga-banggakan pada kelas lain. Semua hanya omong kosong. Tidak lebih dari bualan belaka. Andai mereka tahu kalau aku sangat menyayangi mereka. Tapi sekarang percuma. Aku hanya bagai robot yang mereka andalkan. Tidak lebih.
“ Abby, kau kenapa? Kau tak makan?” tanya Riani.
“ Kenapa kau baru bertanya sekarang?” ucapku ketus sambil berlalu meninggalkannya menuju kamar mandi.
“ Kau habis nangis Abby?” tanya Riani lagi.
“ Apa urusanmu? Berhentilah bertanya seolah kau prihatin padaku!” teriakku benar-benar kesal. Dan nampaknya itu berhasil. Aku tak lagi mendengar suara Riani.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi dan mendapati Riani masih berdiri disana. Aku mendengus kesal.
“ Aku minta maaf kalau aku salah. Kau temanku dan aku tak mau terjadi sesuatu padamu” kata Riani pelan.
“ Eh, ada apanih?” tanya Vania.
“ Kenapa kenapa kenapa?” susul Aqilah.
Aku berlalu pergi seolah tak mendengar mereka yang perlahan kembali ribut. Aku mengambil mukena milikku dan berjalan ke masjid.
Langkah pertamaku memasuki masjid membuatku kembali tidak tenang. Aku melirik ketengah-tengah masjid yang memang disengaja tidak dipasangi tegel dan melihat kaum adam dibawah sana. Dan aku baru tahu. Ternyata kaum adam juga suka bergosip ria.
Sudut kanan belakang adalah yang paling kusuka kalau ingin menyendiri. Jadi aku kesana berusaha mencari ketenangan. Saat duduk termenung sendiri, aku kembali melamun. Melamun yang tak jelas.
“ Abbyyy, masjid tempat beribadah loh. Bukan tempat melamun”
Aku menoleh dan mendapati Putri disampingku. Aku mendengus. Sumpah, aku hanya ingin sendiri saja. Bisakah kalian tidak menggangguku?!
Aku menatapnya datar. Lalu menoleh keteman-temanku yang lain disertai dengan tatapan aneh karena mereka juga sedang berbincang-bincang. Putri mengikuti arah pandangan laku nyegir sendiri karena mengetahui dirinya salah.
“ Kenapa kau tak cari tempat lain saja?” tanyaku ketus.
“ Memangnya kenapa kalau aku duduk disini? Inikan tempat umum. Siapapun berhak duduk disini. Dan... kamu temanku. Aku ingin duduk dengan temanku”
Teman. Hal itu lagi. Lagi dan lagi.
“ Tadi ada apa denganmu?’ tanya Putri pelan.
“ Bukan urusanmu!”
Mungkin sendiri memang menyenangkan.
Kutatap dompet hitam milikku. Aku bingung. Kenapa dima’had ini pencurian kembali marak terjadi. Aku menghela nafas. Berat. Aku duduk sendirian diteras kelas X Smk. Memandang sekeliling dengan hati yang pedih. Oh Tuhan, kapan penderitaan ini berakhir?!
Lihatlah disana. Teman-temanku sedang duduk bersama-sama ditempat yang biasa kami sebut tempat nongkrong. Dan aku disini. Sendiri. Dan mereka sekalipun tak melirik kearahku.
Kupeluk kedua lututku. Kugoyangkan pelan tubuhku dan mulai menutup mataku. Bersenandung kecil semoga dengan begitu hatiku akan terasa lebih baik.
“ Abby” panggil seseorang dan aku tidak menjawab. Aku tahu siapa dia dan tak perlu kujawab. Aku benci berbicara padanya.
“ Abby, ayo kita...”
“ Lepaskan tanganmu!” bentakku kesal menatap Tere. “ Aku tak suka dipegang olehmu”
Aku berdiri hendak pergi dari hadapan Tere tapi kembali ia memegang lenganku.
“ Lepaskan!”
“ Ada apa denganmu bodoh?”
“ Kau yang ada apa? Aku tak mau disentuh olehmu!”
“ Biasanya kau tak seperti ini!”
“ Dan kau juga baru kali ini memanggilku bergabung. Bukankah itu perubahan besar? Kawan!” kataku sinis dan sengeja menakan suaraku saat menyebutkan kata kawan.
Aku menghentakkan keras tangan Tere hingga lepas dari pergelanganku.
“ Hei, ada apa dengan kalian?” teriak Angel berlari kearahku.
Aku menoleh pada Angel dan mendapatinya sedang berlari kearahku diikuti yang lain. Lengkap sudah semua teman-teman satu gengku. Tere, Rina, Putri, Aqilah, Riani, Angel, Quin, Ilmi, dan Fitri.
“ Ada apa Tere?” tanya Putri.
“ Lihat temanmu yang satu ini. Dia tidak tahu diuntung!” seru Tere.
“ Maksudnya?” tanya Fitri dan Ilmi bersamaan.
“ Dia sudah tidak mau berteman dengan kita lagi” kata Tere kesal.
“ Jangan berbicara seperti itu Tere” sergah Riani.
“ Tapi aku benar. Dia sudah tidak mau bermain bersama kita lagi. Tidak mau makan bersama. Tidur bersama. Mandi bersama. Belajar bersama. Bahkan solatpun ia tak mau dekat-dekat kita” serbu Tere membuat badanku terasa kaku. Semua yang dikatakan Tere benar.
“ By, yang dibilang Tere tidak benarkan?” tanya Putri pelan.
Aku menoleh kesal melihat mereka semua.
“ Sebelumnya aku ingin bertanya” kataku. “ Emang kita temenan? Aku enggak ngerasa jadi teman kalian tuh!” ucapku ketus dan sesaaat setelah aku mengatakan itu, tangan Tere melayang kearahku. Tapi aku cukup gesit dan kuat untuk menahannya.
Aku tersenyum. Memandang mereka semua sangat menjijikkan.
“ Abby, what happened with you? “ tanya Angel pelan.
“ Kalian bukan kalian yang dulu. Dan temanku bukan kalian yang sekarang. Tapi kalian yang dulu” ucapku berat sementara aku berlalu pelan. Air mataku jatuh setetes. Aku baru sadar. Mengucapkan hal seperti itu sangat susah. Aku sungguh tak ingin kehilangan mereka.
“ Lebih baik ia keluar saja dari geng kita” tegur Tere membuat hatiku lebih sakit. Tanpa bisa kucegah, air mataku jatuh perlahan. Aqilah mencoba menyentuhku tapi segera kutepis pelan.
“ Kau pikir aku suka? Kalian pikir aku suka bersama kalian?” tanyaku nanar.
“ Jaga ucapanmu Abby” sergah Riani.
“ Kalian, kalian selalu mengumbar-ngumbar persahabatan kalian. Selalu bilang kalau persahabatan adalah segalanya. Tapi tak pernah memperdulikan aku. Kalian tidak pernah bertanya bagaimana keadaanku sekarang? Tak memperdulikan aku kalau aku sedang sakit. Tak mau membantuku kalau aku sedang bingung.
“ Kalian pasti tak pernah tahukan kalau aku sering menangis karena kalian? Aku... selalu menangis sembunyi-sembunyi karena kalian. Aku sudah berusaha mengabaikan semuanya tapi tidak bisa. Aku tak tahu yang mana yang benar. Aku yang terlalu BODOH, atau kalian yang memang terlalu JAHAT?
“ Kenapa aku selalu ingin bersama kalian? Sedang kalian selalu menunjukkan sikap tak peduli denganku. Dan sekarang aku sadar. Kalian memang tak pernah mau aku ada. Kalian tidak butuh aku. Yang kalian inginkan hanyalah kepintaranku, hartaku, makananku” serbuku setengah berteriak. Aku menghentak-hentakkan kakiku marah. Pilu mengatakan semua itu. Kupikir aku akan merasa lega tapi nyatanya hatiku bertambah perih sekarang.
Aku menangis sesegukan.
“Aku rindu kita yang dulu. Masa SMP kita. Aku butuh kalian yang SMP. Bukan kalian yang sekarang sudah SMA dan tak memperdulikan aku” kataku pelan. Aku lelah. Aku ingin semuanya segera berakhir.
“ Kau bodoh Abby. Sangat bodoh” ucap Angel.
Aku berbalik menatap Angel. Bertanya dalam hati apa yang harus kulakukan. Semuanya sudah terlanjur. Tapi aku tak ingin kehilangan mereka.
“ ABBYY” teriak seseorang dari depan gerbang seiring suara terbuka gerbang yang dipaksa. Aku menatap nanar. Mama dan papa terlihat berlari beriringan penuh emosi menuju asramaku. Semua sudah berakhir.
Tiba-tiba jantungku terasa sakit. Kupegang dadaku cepat berharap rasa sakitnya akan hilang. Saat tubuhku terhuyung, mereka, teman-teman yang kucampakkan datang memegangku. Menahanku agar tidak terjatuh ketanah. Kepalaku mulai berat.
“ Kami sayang kamu Abby. Kami tak pernah membencimu. Hanya saja kita sudah dewasa. Dan harus lebih mengerti yang lain. Kami memang salah karena membuatmu merasa tidak peduli padamu. Tapi sungguh, kami sayang kamu” lirih Tere ditelingaku.
“ Semua orang pernah merasakan sakit hati Abby. Aku juga pernah. Bahkan tak jarang aku juga menangis sembunyi-sembunyi. Kita semua merasakan hal yang sama.” jelas Feli.
“ Kita sahabat. Dan itu akan selamanya” kata Tere perhatian.
Aku mengangguk dan mencoba tersenyum. Namun kepalaku kembali terasa sakit membuat penglihatanku samar-samar menjadi buram. Aku masih bisa mendengar desah suara sahabat-sahabatku.
“ Kami sayang kamu Abby” ucap teman-temanku pelan.
Aku tersenyum seiring mataku yang mulai menutup.
Kawan, maaf karena terlalu egois. Aku tahu kalian juga merasakan hal yang sama sepertiku. Kesepian. Tapi kalian selalu tersenyum. Sedang aku masih tidak mengerti. Aku hanya ingin bersama kalian. Karena bagiku kalian adalah segalanya. Sahabat yang sangat aku cinta. Maaf sekali lagi untuk semua kesalahanku. Aku mencintai kalian dan akan selalu mencintai kalian.
Tuhan, jika aku masih bisa meminta dan berharap, sekali ini saja tuhan. Biarkan aku hidup. Aku masih mau bersama teman-temanku. Atau paling tidak biarkan aku bilang maaf pada mereka. Hanya sekali saja, Tuhan.Kumohon.
Terima kasih kawan.
Semoga kita masih bisa bertemu suatu saat nanti.
Kutatap dompet hitam milikku. Aku bingung. Kenapa dima’had ini pencurian kembali marak terjadi. Aku menghela nafas. Berat. Aku duduk sendirian diteras kelas X Smk. Memandang sekeliling dengan hati yang pedih. Oh Tuhan, kapan penderitaan ini berakhir?!
Lihatlah disana. Teman-temanku sedang duduk bersama-sama ditempat yang biasa kami sebut tempat nongkrong. Dan aku disini. Sendiri. Dan mereka sekalipun tak melirik kearahku.
Kupeluk kedua lututku. Kugoyangkan pelan tubuhku dan mulai menutup mataku. Bersenandung kecil semoga dengan begitu hatiku akan terasa lebih baik.
“ Abby” panggil seseorang dan aku tidak menjawab. Aku tahu siapa dia dan tak perlu kujawab. Aku benci berbicara padanya.
“ Abby, ayo kita...”
“ Lepaskan tanganmu!” bentakku kesal menatap Tere. “ Aku tak suka dipegang olehmu”
Aku berdiri hendak pergi dari hadapan Tere tapi kembali ia memegang lenganku.
“ Lepaskan!”
“ Ada apa denganmu bodoh?”
“ Kau yang ada apa? Aku tak mau disentuh olehmu!”
“ Biasanya kau tak seperti ini!”
“ Dan kau juga baru kali ini memanggilku bergabung. Bukankah itu perubahan besar? Kawan!” kataku sinis dan sengeja menakan suaraku saat menyebutkan kata kawan.
Aku menghentakkan keras tangan Tere hingga lepas dari pergelanganku.
“ Hei, ada apa dengan kalian?” teriak Angel berlari kearahku.
Aku menoleh pada Angel dan mendapatinya sedang berlari kearahku diikuti yang lain. Lengkap sudah semua teman-teman satu gengku. Tere, Rina, Putri, Aqilah, Riani, Angel, Quin, Ilmi, dan Fitri.
“ Ada apa Tere?” tanya Putri.
“ Lihat temanmu yang satu ini. Dia tidak tahu diuntung!” seru Tere.
“ Maksudnya?” tanya Fitri dan Ilmi bersamaan.
“ Dia sudah tidak mau berteman dengan kita lagi” kata Tere kesal.
“ Jangan berbicara seperti itu Tere” sergah Riani.
“ Tapi aku benar. Dia sudah tidak mau bermain bersama kita lagi. Tidak mau makan bersama. Tidur bersama. Mandi bersama. Belajar bersama. Bahkan solatpun ia tak mau dekat-dekat kita” serbu Tere membuat badanku terasa kaku. Semua yang dikatakan Tere benar.
“ By, yang dibilang Tere tidak benarkan?” tanya Putri pelan.
Aku menoleh kesal melihat mereka semua.
“ Sebelumnya aku ingin bertanya” kataku. “ Emang kita temenan? Aku enggak ngerasa jadi teman kalian tuh!” ucapku ketus dan sesaaat setelah aku mengatakan itu, tangan Tere melayang kearahku. Tapi aku cukup gesit dan kuat untuk menahannya.
Aku tersenyum. Memandang mereka semua sangat menjijikkan.
“ Abby, what happened with you? “ tanya Angel pelan.
“ Kalian bukan kalian yang dulu. Dan temanku bukan kalian yang sekarang. Tapi kalian yang dulu” ucapku berat sementara aku berlalu pelan. Air mataku jatuh setetes. Aku baru sadar. Mengucapkan hal seperti itu sangat susah. Aku sungguh tak ingin kehilangan mereka.
“ Lebih baik ia keluar saja dari geng kita” tegur Tere membuat hatiku lebih sakit. Tanpa bisa kucegah, air mataku jatuh perlahan. Aqilah mencoba menyentuhku tapi segera kutepis pelan.
“ Kau pikir aku suka? Kalian pikir aku suka bersama kalian?” tanyaku nanar.
“ Jaga ucapanmu Abby” sergah Riani.
“ Kalian, kalian selalu mengumbar-ngumbar persahabatan kalian. Selalu bilang kalau persahabatan adalah segalanya. Tapi tak pernah memperdulikan aku. Kalian tidak pernah bertanya bagaimana keadaanku sekarang? Tak memperdulikan aku kalau aku sedang sakit. Tak mau membantuku kalau aku sedang bingung.
“ Kalian pasti tak pernah tahukan kalau aku sering menangis karena kalian? Aku... selalu menangis sembunyi-sembunyi karena kalian. Aku sudah berusaha mengabaikan semuanya tapi tidak bisa. Aku tak tahu yang mana yang benar. Aku yang terlalu BODOH, atau kalian yang memang terlalu JAHAT?
“ Kenapa aku selalu ingin bersama kalian? Sedang kalian selalu menunjukkan sikap tak peduli denganku. Dan sekarang aku sadar. Kalian memang tak pernah mau aku ada. Kalian tidak butuh aku. Yang kalian inginkan hanyalah kepintaranku, hartaku, makananku” serbuku setengah berteriak. Aku menghentak-hentakkan kakiku marah. Pilu mengatakan semua itu. Kupikir aku akan merasa lega tapi nyatanya hatiku bertambah perih sekarang.
Aku menangis sesegukan.
“Aku rindu kita yang dulu. Masa SMP kita. Aku butuh kalian yang SMP. Bukan kalian yang sekarang sudah SMA dan tak memperdulikan aku” kataku pelan. Aku lelah. Aku ingin semuanya segera berakhir.
“ Kau bodoh Abby. Sangat bodoh” ucap Angel.
Aku berbalik menatap Angel. Bertanya dalam hati apa yang harus kulakukan. Semuanya sudah terlanjur. Tapi aku tak ingin kehilangan mereka.
“ ABBYY” teriak seseorang dari depan gerbang seiring suara terbuka gerbang yang dipaksa. Aku menatap nanar. Mama dan papa terlihat berlari beriringan penuh emosi menuju asramaku. Semua sudah berakhir.
Tiba-tiba jantungku terasa sakit. Kupegang dadaku cepat berharap rasa sakitnya akan hilang. Saat tubuhku terhuyung, mereka, teman-teman yang kucampakkan datang memegangku. Menahanku agar tidak terjatuh ketanah. Kepalaku mulai berat.
“ Kami sayang kamu Abby. Kami tak pernah membencimu. Hanya saja kita sudah dewasa. Dan harus lebih mengerti yang lain. Kami memang salah karena membuatmu merasa tidak peduli padamu. Tapi sungguh, kami sayang kamu” lirih Tere ditelingaku.
“ Semua orang pernah merasakan sakit hati Abby. Aku juga pernah. Bahkan tak jarang aku juga menangis sembunyi-sembunyi. Kita semua merasakan hal yang sama.” jelas Feli.
“ Kita sahabat. Dan itu akan selamanya” kata Tere perhatian.
Aku mengangguk dan mencoba tersenyum. Namun kepalaku kembali terasa sakit membuat penglihatanku samar-samar menjadi buram. Aku masih bisa mendengar desah suara sahabat-sahabatku.
“ Kami sayang kamu Abby” ucap teman-temanku pelan.
Aku tersenyum seiring mataku yang mulai menutup.
Kawan, maaf karena terlalu egois. Aku tahu kalian juga merasakan hal yang sama sepertiku. Kesepian. Tapi kalian selalu tersenyum. Sedang aku masih tidak mengerti. Aku hanya ingin bersama kalian. Karena bagiku kalian adalah segalanya. Sahabat yang sangat aku cinta. Maaf sekali lagi untuk semua kesalahanku. Aku mencintai kalian dan akan selalu mencintai kalian.
Tuhan, jika aku masih bisa meminta dan berharap, sekali ini saja tuhan. Biarkan aku hidup. Aku masih mau bersama teman-temanku. Atau paling tidak biarkan aku bilang maaf pada mereka. Hanya sekali saja, Tuhan.Kumohon.
Terima kasih kawan.
Semoga kita masih bisa bertemu suatu saat nanti.
Langganan:
Postingan (Atom)