Sabtu, 10 Januari 2015

Kamu & Hatiku



PART 1


Aku takut untuk jatuh cinta, lagi
Karena rasa bahagia yang dirasakan saat kita jatuh cinta selalu berbanding lurus dengan rasa sakit yang akan didapatkan

Gadis berkucir satu itu duduk bosan dikursinya. Malas menatap sekelilingnya. Diatasnya pesawat-pesawat kertas sibuk melintas berusaha membuang rasa jenuh pemiliknya. Gadis itu melirik arlojinya. Masih ada lima belas menit lagi sebelum bel istirahat berbunyi dan dia sungguh sudah sangat merasa bosan dan terganggu. Seharusnya pagi ini kelasnya ada pelajaran sejarah. Tapi gurunya tidak masuk. Mungkin ia berhalangan. Walaupun begitu kelas mereka tak boleh bubar.
Gadis itu mendesah pelan bangkit dari kursinya.
“ Mau kemana Der?” tanya Ashila, teman sebangkunya yang sejak tadi sibuk dengan gadget miliknya.
“ Toilet” jawab Dera asal lalu melenggang pergi keluar kelas. Meninggalkan keributan-keributan yang terjadi. Sesampai di toilet, Dera bingung sendiri apa yang hendak dia lakukan. Sebenarnya ia tak ada niat untuk ke toilet. Dia hanya ingin menghilang untuk sementara saja.
Dera menatap dirinya pada cermin toilet. Kemudian tersenyum sekilas. Mencoba menyentuh bayangan wajahnya sendiri. Tangannya menelusuri cermin toilet hingga menuju ke tembok. Menatap tulisan-tulisan tangan yang ada disana.

Cita, XII Ipa 2
Brian gnteng bingiiiit
Palagi kalo lgi maen baskett
Tmbh unyu-unyuuu
Luph u k’ Brian...

Rara cantik XII Ips 1
Aq luphnya ma  Raka
Raka orngnya lucusihh

Kening Dera mengerut. Ia tidak mengenali Raka.

Venny nanda from class XII Ipa 1
Brian milik AKU!!

Viola Viola, XI
Wets west wetsssss
Msih gagahan kak Angga kallleeee
Gak ada yg bs ngalahin dia

Dera menghela napas panjang. Kemudian kembali menatap dirinya. “ Apa lo begitu menyedihkan? Dera, kumohon lupain dia. Dia nggak pantas buat diinget terus. Buka hati lo. Jangan lo tolak terus laki-laki yang datang ke elo” Dera bergumam sendiri pada bayangannya.
Gue enggak pernah nolak mereka. mereka aja yang ninggalin gue. Pergi sebelum berusaha lebih keras menangin hati gue, balas Dera dalam hatinya.
###
“ Dera, kekantin yuk” panggil Ashila sesaat setelah lonceng berbunyi. Dera menatap menyelidik. “ Lo takut gue disambar orang?” tanya Dera dengan alis kanan yang terangkat. Alisha menganga, bingung sendiri.
“ Habis elo sih. Kayak gue enggak bakal ke kantin aja. Enggak dengar apa lo sejak tadi perut gue udah teriak minta makan?” kata Dera membuat Alisha kesal setengah mati.
Mereka berdua berjalan menuju kantin dengan Alisha yang terus saja berceloteh tentang Dilon, pacar barunya entah sudah yang keberapa. Tiba-tiba sebuah tangan merangkul pundak Dera dan seorang lagi mencoba menerobos ditengah-tengah Dera dan Alisha. Dera yang terkejut berteriak kesal.
“Yaak! Kalian kebiasaan deh” kata Dera kesal pada Raya dan Fatin. Raya dan Fatin hanya cengengesan.
“ Bukan kami kali Der. Kalian berdua ajatuh yang enggak dengar kami panggil. Orang dari kelas tuh kami udah panggil elo. Elonya aja yang terlalu serius sama Alisha.” balas Fatin tertawa. “Lagi cerita apasih?” sambung Fatin.
“ Noh, si Alisha nyeritain si Dilon lagi.”
Alisha hanya tersenyum jail ditatap Dera.
“ Der, lo mau makan baso lagi?” tanya Raya.
Dera menggeleng. “ Kok gue kayaknya enggak nafsu makan yah” seru Dera pelan. Raya langsung memasang tampang kesal. “ Gue pesenin baso aja lagideh. Gue enggak pengen lo ngambil jatah makan gue” seru Raya yang langsung berjalan pergi. Dera tertawa sengaja mengerjai Raya. Raya memang tidak bisa makan hanya satu porsi. Tapi bagusnya badannya tidak jadi gemuk gara-gara itu.
“ Lo kalo ketawa cantik deh Der” ucap Fatin spontan membuat Dera terdiam. Speechless. Tidak tau mau bilang apa, Dera maracau. “ Lo baru sadar gue cantikyah?” tanya Dera membuat Fatin menyipitkan matanya. Fatin cemberut tapi Dera kembali tertawa. Diikuti Alisha yang sudah tahu kebiasaan Dera itu.
“ Lo jangan berdebat sama diadeh Tin. Elo nggak bakalan menang” kata Alisha masih dengan sisa-sisa tawanya.
“ Halo guys, lagi bicarain apasih?” tanya Raya yang datang dengan nampan besar berisi pesanan teman-temannya.
“ Eh, kalian tahu Raka tidak?” tanya Raya ditengah-tengah makannya. Alisha dan Fatin mengangguk tapi Dera hanya menggelang. “ Yah Dera. Kok lo enggak tahusih. Malahan disini elo yang pengen dibicarain”
“ Raka yang kelas XII Ipa 1 itu? Yang ketua majalah sekolah kita?”
Raya mengangguk.
“ Kenapa emang? Raka suka sama Dera?” tanya Alisha membuat Dera tersedak. Buru-buru Dera menyambar gelas teh dinginnya.
“ Enggak bisa dibilang gitu jugasih” kata Raya. “Minggu lalu waktu di training gambar komik gue enggak sengaja ketemu sama dia. Kan gue kepotuh, yah gue deketin ajatuh si Raka. Kalo gue nggak inget ada Ken gue pasti udah nembak dia”
Dera tertawa samar. Sesekali menunduk karena dari sudut matanya jelas ia bisa melihat ada seorang siswa yang sembunyi-sembunyi menatapnya.
“ Trusss” Alisha berseru.
“ Trus dia nanya. Siapa murid paling pintar dikelas kita IPA 3. Gue bilang aja kalo Dera paling pintar. Apalagi kalo debat. Si Raka langsung cengengesan. Dari situ gue tahu kalo ternyata dia suka banget cerita. Dia bilang mau kenalan sama lo Der. Soalnya lo pintar. Dia Cuma mau gaul sama orang-orang pintar, itu yang dia bilang.Waduhhh, pokoknya si Raka ngegemesen deh. Gue kira kalo dari dekat enggak. Tarnyata makin unyu. Dia humoris banget”
Dera, Alisha, dan Fatin tertawa melihat Raya bercerita sambil makan. Ekspresinya lucu. Biasanya Raya akan sangat menjaga raut wajahnya. Tapi kalau sedang makan ia tidak akan pernah mau peduli.
“ Kalo menurut gue sih dia Cuma mau pamer. Sok cuman mau temenan sama orang pintar aja” kata Dera.
“ Tapi kok, feeling gue bilang dia suka yah sama lo?” tebak Raya.
Dera tertawa. “ Enggak mungkin. Orang gue nggak kenal dia”
Alisha menganggguk. “ Kayaknya si Raka enggak suka sama si Dera deh. “ seru Alisha. “ Bukan karena Deranya. Tapi emang dia kayak gitu. Kalian tahu Zena? Anak XII Ips 2. Dia dulu pacarnya. Tapi langsung putus seminggu setelah pacaran. Sama tuh kayak Rara anak kelas XII Ips 1. Cuman sebulan. Dan dua cewek itu murid yang terpintar dikelasnya” jelas Alisha. Yang lain mengangguk kecuali Dera. Yang diam-diam tumbuh rasa sedih dihatinya. Dera tahu siapa Rara. Rara adalah teman smpnya dulu yang masih sering main dengannya.
“ Tapi gue suka sama diaaaa” kata Raya.
“ Jadi Ken mau dikemanain?” tanya Fatin sewot.
“ Enggak dikemanain kok. Tersimpan rapi. Gue bosen sama dia. Ngalah mulu” kata Raya kesal mengingat Ken yang selalu mau menuruti perintah Raya. “ Tapi Der, kapan sih lo pacaran? Masih belum bisa lupan Dean yah?” sambung Raya. Dera Cuma cengengesan mendengar pertanyaan Raya.
Dera kembali menyantap mi basonya. Seolah fokus tapi pada kenyataannya fokusnya bukan disana. Kata-kata Raya barusan terngiang dikepalanya. Kapan dia pacaran? Apa masih belum bisa melupakan Dean?
Dera masih sibuk berpikir saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata seorang siswa yang sedari tadi ia sadari menatapnya terus. Merasa kikuk, Dera pergi meninggalkan teman-temannya. Keluar dari kantin.
###