Sabtu, 05 April 2014

Mereka, Tanpa Aku!

Mereka, Tanpa Aku!
Hanya satu yang kuinginkan didunia ini.
Hanya senyum tulus kalian. Tidak lebih.
Hanya sesederhana itu
.
 
 “Abby, tentang kejadian semalam kamu,”
PAKKK...
Aku menutup pintu mobil tanpa peduli akan teriakan mama. Sangat menjengkelkan jika aku harus mendengar ocehannya lagi. Atau permintaan maaf yang berulang kali ia ucapkan dan berulang kalipun kembali ia lakukan kesalahannya itu.
Aku memasuki gerbang hijau sekolahku. Menerobos masuk tanpa memperdulikan siapa saja orang yang memanggilku. Tapi suara lirih itu entah mengapa membuat kakiku berhenti melangkah.
“ Afwan Ukhti. Kartu izinnya”
Aku menatap kesal orang yang berdiri takut didepanku. Seandainya aku tidak sadar kalau dia sedang bertugas piket, aku sudah mengomelinya sejak tadi. Dengan cepat aku mengambilkan kartu izinku lalu melemparkannya. Tak peduli dengan keterkejutannya aku melangkah menjauh.
Dan yang paling memuakkan adalah langkah ketika aku harus kembali bersama kawan-kawan seasramaku. Setiap kali bersama mereka, setiap kali aku merasa dilema. Aku marah, benci, sedih, bahagia, dan rindu. Semuanya bercampur aduk membuatku terkadang merasa lelah karena memikirnya.
Aku berjalan dan sengaja mengambil jalan lewat koridor belakang asrama agar mereka tidak melihatku. Kuharap mereka benar-benar tidak melihatku. Tak menampakkan diri lebih baik dari pada harus bertemu dengan mereka.
 “ Aku pulang” seruku sambil lalu melewati teman-temanku yang sedang tertawa cekikian.
“ Hai Abby” sapa Quin.
Aku malas. Sangat malas bertemu mereka. Sapaan dan senyumnya, semua itu palsu. Hanya kebohongan.
“ By, oleh-oleh buat kami mana?” tanya Rina.
Apa kubilang. Semua palsu.
Aku memandang kesal kearah Rina tapi dia hanya senyum-senyum tak jelas balas memandangku. Setengah hati aku membuka ranselku dan melemparkan 2 buah chungky bar kearah mereka. Kedua mataku melirik mereka yang entah mengapa sangat senang walau jelas-jelas kedua coklat tadi sengaja aku lempar kelantai. Aku sempat menangkap tatapan aneh Fitri padaku. Tapi sedetik kemudian ia kembali sibuk dengan coklat tadi.
Aku langsung tiduran tengkurap, menutupi wajahku dengan bantal kepala yang ada disampingku. Entah mengapa melihat mereka tertawa membuat hatiku miris. Aku juga ingin tersenyum. Tertawa lepas seperti mereka tapi bagaimana caranya? Aku benci mereka. Sangat benci.
Hanya satu yang aku tahu. Mereka berbuat baik kepadaku hanya jika ada maunya. Mereka hanya mau uangku. Hanya mau kepintaranku. Hanya mau makananku. Selebihnya, tidak sama sekali. Aku mengutuk diriku sendiri dan mulai bertanya-tanya.
Sayup-sayup lonceng makan sore telah berdentang. Aku mendesah tapi tak bergerak dari tempat tidurku. Mereka berlari-lari mencari piring mereka sambil bersorak gembira. Aku ingin mengetahui apakah mereka akan memanggilku makan bersama setelah kuberi coklat atau tidak. Ternyata TIDAK!
“ Kenapa?” ucapku lirih.
Aku memindahkan bantal yang berada diatas wajahku dan mulai duduk sambil memeluk kedua lututku.
“ Aku hanya ingin kasih sayang. Hanya itu. Kenapa kalian tidak mengerti?”
Mataku mulai kabur karena air mata yang mengenang.
Telingaku mulai berdengung karena air mata yang terus terbendung.
Tenggorokanku mulai tercekat karena air mata yang terus kutahan.
Hingga akhirnya, air mata itu jatuh meluruh membuat benteng pertahanan yang selama ini kubangun runtuh sia-sia. Apa yang salah dari keinginanku? Tak ada. Itu hal yang wajar yang diinginkan oleh semua orang. Apakah salah jika aku ingin merasa bahagia?
Apa aku sangat menyedihkan? Bahkan orang tuaku saja tak ada yang peduli padaku.
Aku masih ingat sisa-sisa pertengkaran mama dan papa semalam. Kata-kata cerai hampir menggema keras diseisi rumah. Dan mereka tak peduli akan keberadaanku dirumah.
Aku memandang sekelilingku. Tak ada orang. Dan mungkin juga tak ada yang menginginkanku didunia ini. Apa aku benar-benar harus menghilang?
Aku menangis sesegukan. Sesekali mataku menatap nanar pada dinding tembok tempat tidur Angel. Disana Angel  suka menempel foto-foto miliknya. Dari sudut mataku, aku melihat sebuah foto yang dimana ia tertawa lebar. Bersama keluarganya. Sungguh keluarga yang harmonis. Aku iri padanya. Hampir setiap hari Angel bercerita tentang keluarganya. Dua tahun terakhir ini aku sudah lupa bagaimana cara tertawa dan rasa bahagia saat bersama orang tuaku. Mereka terlalu sibuk dengan karir mereka sendiri tanpa pernah memikirkan aku. Yang ia tahu asalkan memberikan uang yang banyak bagiku, hal itu sudah membuatku senang.
Lalu pandanganku beralih pada foto yang berada dipojok. Itu foto kami. Foto sewaktu kami baru masuk SMP tahun ketiga. Aku tersenyum samar. Aku ingin kembali kemasa itu. Dimana teman-temanku masih peduli padaku. Masih memberikan senyum tulus padaku. Masih tertawa hangat bersamaku. Tapi sekarang...
Aku serasa ingin muntah.
Perutku melilit mengingat semuanya. Persahabatan yang mereka umbar-umbarkan pada kelas lain. Kekompakan yang ia bangga-banggakan pada kelas lain. Semua hanya omong kosong. Tidak lebih dari bualan belaka. Andai mereka tahu kalau aku sangat menyayangi mereka. Tapi sekarang percuma. Aku hanya bagai robot yang mereka andalkan. Tidak lebih.
“ Abby, kau kenapa? Kau tak makan?” tanya Riani.
“ Kenapa kau baru bertanya sekarang?” ucapku ketus sambil berlalu meninggalkannya menuju kamar mandi.
“ Kau habis nangis Abby?” tanya Riani lagi.
“ Apa urusanmu? Berhentilah bertanya seolah kau prihatin padaku!” teriakku benar-benar kesal. Dan nampaknya itu berhasil. Aku tak lagi mendengar suara Riani.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi dan mendapati Riani masih berdiri disana. Aku mendengus kesal.
“ Aku minta maaf kalau aku salah. Kau temanku dan aku tak mau terjadi sesuatu padamu” kata Riani pelan.
“ Eh, ada apanih?” tanya Vania.
“ Kenapa kenapa kenapa?” susul Aqilah.
Aku berlalu pergi seolah tak mendengar mereka yang perlahan kembali ribut. Aku mengambil mukena milikku dan berjalan ke masjid.
Langkah pertamaku memasuki masjid membuatku kembali tidak tenang. Aku melirik ketengah-tengah masjid yang memang disengaja tidak dipasangi tegel dan melihat kaum adam dibawah sana. Dan aku baru tahu. Ternyata kaum adam juga suka bergosip ria.
Sudut kanan belakang adalah yang paling kusuka kalau ingin menyendiri. Jadi aku kesana berusaha mencari ketenangan. Saat duduk termenung sendiri, aku kembali melamun. Melamun yang tak jelas.
“ Abbyyy, masjid tempat beribadah loh. Bukan tempat melamun”
Aku menoleh dan mendapati Putri disampingku. Aku mendengus. Sumpah, aku hanya ingin sendiri saja. Bisakah kalian tidak menggangguku?!
Aku menatapnya datar. Lalu menoleh keteman-temanku yang lain disertai dengan tatapan aneh karena mereka juga sedang berbincang-bincang. Putri mengikuti arah pandangan laku nyegir sendiri karena mengetahui dirinya salah.
“ Kenapa kau tak cari tempat lain saja?” tanyaku ketus.
“ Memangnya kenapa kalau aku duduk disini? Inikan tempat umum. Siapapun berhak duduk disini. Dan... kamu temanku. Aku ingin duduk dengan temanku”
Teman. Hal itu lagi. Lagi dan lagi.
“ Tadi ada apa denganmu?’ tanya Putri pelan.
“ Bukan urusanmu!”
  
 
Mungkin sendiri memang menyenangkan.
Kutatap dompet hitam milikku. Aku bingung. Kenapa dima’had ini pencurian kembali marak terjadi. Aku menghela nafas. Berat. Aku duduk sendirian diteras kelas X Smk. Memandang sekeliling dengan hati yang pedih. Oh Tuhan, kapan penderitaan ini berakhir?!
Lihatlah disana. Teman-temanku sedang duduk bersama-sama ditempat yang biasa kami sebut tempat nongkrong. Dan aku disini. Sendiri. Dan mereka sekalipun tak melirik kearahku.
Kupeluk kedua lututku. Kugoyangkan pelan tubuhku dan mulai menutup mataku. Bersenandung kecil semoga dengan begitu hatiku akan terasa lebih baik.
“ Abby” panggil seseorang dan aku tidak menjawab. Aku tahu siapa dia dan tak perlu kujawab. Aku benci berbicara padanya.
“ Abby, ayo kita...”
“ Lepaskan tanganmu!” bentakku kesal menatap Tere. “ Aku tak suka dipegang olehmu”
Aku berdiri hendak pergi dari hadapan Tere tapi kembali ia memegang lenganku.
“ Lepaskan!”
“ Ada apa denganmu bodoh?”
“ Kau yang ada apa? Aku tak mau disentuh olehmu!”
“ Biasanya kau tak seperti ini!”
“ Dan kau juga baru kali ini memanggilku bergabung. Bukankah itu perubahan besar? Kawan!” kataku sinis dan sengeja menakan suaraku saat menyebutkan kata kawan.
Aku menghentakkan keras tangan Tere hingga lepas dari pergelanganku.
“ Hei, ada apa dengan kalian?” teriak Angel berlari kearahku.
Aku menoleh pada Angel dan mendapatinya sedang berlari kearahku diikuti yang lain. Lengkap sudah semua teman-teman satu gengku. Tere, Rina, Putri, Aqilah, Riani, Angel, Quin, Ilmi, dan Fitri.
“ Ada apa Tere?” tanya Putri.
“ Lihat temanmu yang satu ini. Dia tidak tahu diuntung!” seru Tere.
“ Maksudnya?” tanya Fitri dan Ilmi bersamaan.
“ Dia sudah tidak mau berteman dengan kita lagi” kata Tere kesal.
“ Jangan berbicara seperti itu Tere” sergah Riani.
“ Tapi aku benar. Dia sudah tidak mau bermain bersama kita lagi. Tidak mau makan bersama. Tidur bersama. Mandi bersama. Belajar bersama. Bahkan solatpun ia tak mau dekat-dekat kita” serbu Tere membuat badanku terasa kaku. Semua yang dikatakan Tere benar.
 “ By, yang dibilang Tere tidak benarkan?” tanya Putri pelan.
Aku menoleh kesal melihat mereka semua.
 “ Sebelumnya aku ingin bertanya” kataku. “ Emang kita temenan? Aku enggak ngerasa jadi teman kalian tuh!” ucapku ketus dan sesaaat setelah aku mengatakan itu, tangan Tere melayang kearahku. Tapi aku cukup gesit dan kuat  untuk menahannya.
Aku tersenyum. Memandang mereka semua sangat menjijikkan.
“ Abby, what happened with you? “ tanya Angel pelan.
“ Kalian bukan kalian yang dulu. Dan temanku bukan kalian yang sekarang. Tapi kalian yang dulu” ucapku berat sementara aku berlalu pelan. Air mataku jatuh setetes. Aku baru sadar. Mengucapkan hal seperti itu sangat susah. Aku sungguh tak ingin kehilangan mereka.
“ Lebih baik ia keluar saja dari geng kita” tegur Tere membuat hatiku lebih sakit. Tanpa bisa kucegah, air mataku jatuh perlahan. Aqilah mencoba menyentuhku tapi segera kutepis pelan.
“ Kau pikir aku suka? Kalian pikir aku suka bersama kalian?” tanyaku nanar.
“ Jaga ucapanmu Abby” sergah Riani.
“ Kalian, kalian selalu mengumbar-ngumbar persahabatan kalian. Selalu bilang kalau persahabatan adalah segalanya. Tapi tak pernah memperdulikan aku. Kalian tidak pernah bertanya bagaimana keadaanku sekarang? Tak memperdulikan aku kalau aku sedang sakit. Tak mau membantuku kalau aku sedang bingung.
“ Kalian pasti tak pernah tahukan kalau aku sering menangis karena kalian? Aku... selalu menangis sembunyi-sembunyi  karena kalian. Aku sudah berusaha mengabaikan semuanya tapi tidak bisa. Aku tak tahu yang mana yang benar. Aku yang terlalu BODOH, atau kalian yang memang terlalu JAHAT?
“ Kenapa aku selalu ingin bersama kalian? Sedang kalian selalu menunjukkan sikap tak peduli denganku. Dan sekarang aku sadar. Kalian memang tak pernah mau aku ada. Kalian tidak butuh aku. Yang kalian inginkan hanyalah kepintaranku, hartaku, makananku” serbuku setengah berteriak. Aku menghentak-hentakkan kakiku marah. Pilu mengatakan semua itu. Kupikir aku akan merasa lega tapi nyatanya hatiku bertambah perih sekarang.
Aku menangis sesegukan.
“Aku rindu kita yang dulu. Masa SMP kita. Aku butuh kalian yang SMP. Bukan kalian yang sekarang sudah SMA dan tak memperdulikan aku” kataku pelan. Aku lelah. Aku ingin semuanya segera berakhir.
“ Kau bodoh Abby. Sangat bodoh” ucap Angel.
Aku berbalik menatap Angel. Bertanya dalam hati apa yang harus kulakukan. Semuanya sudah terlanjur. Tapi aku tak ingin kehilangan mereka.
“ ABBYY” teriak seseorang dari depan gerbang seiring suara terbuka gerbang yang dipaksa. Aku menatap nanar. Mama dan papa terlihat berlari beriringan penuh emosi menuju asramaku. Semua sudah berakhir.
Tiba-tiba jantungku terasa sakit. Kupegang dadaku cepat berharap rasa sakitnya akan hilang. Saat tubuhku terhuyung, mereka, teman-teman yang kucampakkan datang memegangku. Menahanku agar tidak terjatuh ketanah. Kepalaku mulai berat.
“ Kami sayang kamu Abby. Kami tak pernah membencimu. Hanya saja kita sudah dewasa. Dan harus lebih mengerti yang lain. Kami memang salah karena membuatmu merasa tidak  peduli padamu. Tapi sungguh, kami sayang kamu” lirih Tere ditelingaku.
“ Semua orang pernah merasakan sakit hati Abby. Aku juga pernah. Bahkan tak jarang aku juga menangis sembunyi-sembunyi. Kita semua merasakan hal yang sama.” jelas Feli.
“ Kita sahabat. Dan itu akan selamanya” kata Tere perhatian.
Aku mengangguk dan mencoba tersenyum. Namun kepalaku kembali terasa sakit membuat penglihatanku samar-samar menjadi buram. Aku masih bisa mendengar desah suara sahabat-sahabatku.
 “ Kami sayang kamu Abby” ucap teman-temanku pelan.
Aku tersenyum seiring mataku yang mulai menutup. 

Kawan, maaf karena terlalu egois. Aku tahu kalian juga merasakan hal yang sama sepertiku. Kesepian. Tapi kalian selalu tersenyum. Sedang aku masih tidak mengerti. Aku hanya ingin bersama kalian. Karena bagiku kalian adalah segalanya. Sahabat yang sangat aku cinta. Maaf sekali lagi untuk semua kesalahanku. Aku mencintai kalian dan akan selalu mencintai kalian.

Tuhan, jika aku masih bisa meminta dan berharap, sekali ini saja tuhan. Biarkan aku hidup. Aku masih mau bersama teman-temanku. Atau paling tidak biarkan aku bilang maaf pada mereka. Hanya sekali saja, Tuhan.Kumohon.

Terima kasih kawan.
Semoga kita masih bisa bertemu suatu saat nanti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar